Kamis, 28 Maret 2019

Zonasi PPDB



                                 Zonasi PPDB dan Perubahan Paradigma Terhadap Nilai Ujian


 “ Itu namanya tidak adil Buu, saya sudah cape cape nyuruh anak belajar, sampai dipaksa untuk ikut les...eh..giliran dapet nilai bagus gak bisa masuk ke sekolah negeri” Kalimat di atas masuk ke whatsapp saya tiga hari yang lalu, ungkapan kekecewaan yang dirasakan oleh tetangga rumah, dan kekecewaan itu tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja, tapi banyak. Kata adil maknanya akan bergeser manakala kata itu dipakai untuk menunjukan apakah keinginan sebagian golongan terpenuhi atau tidak. Kata adil akan tetap bermakna seperti makna yang seharusnya manakala parameter yang dipakai adalah terpenuhinya kepentingan orang banyak atau umum. Setiap pelaturan yang diterbitkan baik itu oleh pihak pemerintah atau non- pemerintah, pasti menuai pro dan kontra, adil dan tidak adil atau istilah halusnya berpihak dan tidak berpihak, berpihak dimaknai apabila pelaturan itu sesuai dengan keinginan satu golongan, dan tidak berpihak dimaknai bahwa aturan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan. Parameter berpihak atau tidak berpihak didasarkan pada tercapai atau tidak tercapainya sebuah keinginan dari sebuah kepentingan pribadi atau golongan, dan bukan untuk kepentingan umum atau untuk kemaslahatan seluruh penduduk. Kepentingan umum atau kemaslahatan seluruh penduduk menjadi tujuan pemerintah, untuk itu pemerintah menerbitkan sebuah aturan yang parameternya adalah kepentingan umum tanpa terkecuali, bukan pribadi atau golongan, dan itu adalah tugas pemerintah untuk melindungi seluruh warganya, meskipun pada awal penerbitan dan pelaksanaan aturan itu biasanya belum terasa manfaatnya. Tahun 2018, Pemerintah mengeluarkan pelaturan baru dalam mengurus pendidikan di negara ini, Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, isi dari Permendikbud ini adalah salah satunya menerbitkan aturan tentang sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru, yang disingkat PPDB. Aturan PPDB tahun 2018 ini memiliki komposisi 90% zonanisasi, artinya 90 % anak di zona itu bisa diterima di sekolah yang satu zona dengan tempat anak itu tinggal, dan sisanya yang 10 % boleh diisi oleh anak yang dari luar dengan beberapa pertimbangan. Pada komposis 90% di dalamnya ada jatah 20% untuk anak yang tidak mampu. Dengan menerapkan komposisi di atas, pemerintah bermaksud melakukan pemerataan kwalitas pendidikan, bahwa semua sekolah khususnya sekolah negeri itu kwalitasnya sama, tidak ada sekolah negeri yang status favorit atau bagus dan tidak favorit atau buangan, anak-anak pintar tersebar disemua sekolah dan diharapkan dapat memberi pengaruh atau menularkan kepintaranya pada anak-anak yang belum pintar, begitupula dari sisi kondisi kesejahteraan keluarga, ada yang kaya dan miskin, hal ini diharapkan bisa saling bergaul untuk mengasah empati dan simpati diantara anak-anak itu. Di samping itu zonasi juga dimaksudkan untuk melindungi anak yang tidak mampu agar mendapatkan sekolah negeri, karena sekolah negeri adalah sekolah yang dibiaya oleh pajak rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat " kata Hamid di Labschool UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/7/2017). Salah satu efek dari pelaksanaan aturan zonasi ini, yaitu munculnya fenomena anak-anak yang memiliki nilai bagus tapi tidak bisa memasuki sekolah negeri karena mereka kalah oleh aturan zonasi tadi, sebagian para orang tua siswa merasa bahwa nilai yang dicapai anak tidak dihargai begitu pula dengan usaha yang menyertai untuk mencapai nilai itu, kata mereka buat apa ada ujian kalau hasilnya tidak dihargai. Secara tidak langsung fenomena ini menyadarkan kita tentang hakikat nilai dari sebuah tes atau ujian dalam sebuah jenjang pendidikan, sejatinya nilai itu digunakan untuk mengukur kwalitas dan kesungguhan dalam sebuah proses pembelajaran. Sedangkan tes atau ujian dimaksudkan untuk mengetahui seberapa cakap seorang siswa dalam sebuah jenjang pendidikan. Nilai dan ujian tidak ditujukan untuk tujuan yang lain, misalnya untuk tujuan mendapatkan sekolah tertentu. Semua yang terlibat dalam proses pendidikan harus mulai menanamkan pemahaman hakikat dari keberadaan sebuah nilai dan ujian atau tes. Hakikat keduanya adalah sebagai pengukur, maksudnya sudah seperti apa kwalitas yang dimiliki dan kesungguhan seperti apa yang sudah dilakukan dalam menuntut ilmu. Manakala nilai dan ujian diletakakan pada paradigma di atas, apapun kondisinya, hal itu tidak akan memunculkan riak-riak kekecewaan seperti kasus di atas, yang ujung-ujungnya melupakan rasa syukur pada Maha Pencipta. Sungguh proses yang tidak mudah merubah paradigma lama yang sudah lama mengakar dalam kehidupan kita, tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk dirubah selama kita saling berpegangan untuk perubahan itu. Pemerintah sudah meletakan aturan itu, kita sebagai warga negara, ayo kita rubah paradigma lama itu dengan paradigm baru, dengan mulai menghormati, mendukung dan melaksanakan aturan itu, agar keinginan dan usaha pemerintah menjadi pengayom bagi seluruh lapisan masyarakat terwujud. Selamat datang zonasi selamat datang perubahan.




                                       M-Learning Pada Mata Pelajaran Bahasa Sunda


              Pembelajaran dengan media m-learning yang digunakan pada mata pelajaran Bahasa Sunda termasuk kedalam pendekatan pembelajaran situasional, yaitu pendekatan pembelajaran yang direalisasikan saat pemelajar menggunakan perangkat mobile untuk belajar dalam konteks nyata. Variasi dari pembelajaran media m-learning ini di antaranya; Browsing materi; Chatting memakai Bahasa Sunda; Browsing gambar yang ada hubungannya dengan materi; atau mengupload hasil dari karya siswa. Materi pokok mata pelajaran Bahasa Sunda yang memakai media m-learning salah satunya adalah materi pokok Aksara Sunda. Materi ini pada kurikulum tiga belas edisi revisi dihilangkan dari kurikulum satuan tingkat pendidikan jenjang sekolah menengah pertama (SMP), tapi pada tataran lomba, Aksara Sunda menjadi salah satu mata lomba. Karenanya, untuk mengantisipasi penyedian siswa yang mahir menulis aksara Sunda, kami guru Bahasa Sunda di SMP Negeri 24 Bandung tetatp memasukan materi aksara Sunda ke dalam program pengajaran. Materi aksara Sunda diberikan pada siswa kelas 7, hal ini dimaksudkan agar para siswa mengenal sedini mungkin Akasara Sunda yang nantinya diharapkan ketika naik ke kalas berikutnya anaka-anak ini sudah punya bekal dan di kelas berikutnya tinggal pengembangan atau pelatihan ketingkat mahir sehingga ketika ada lomba sekolah tidak kesulitan mencari dan melatih para siswa lagi. Materi Aksara Sunda termasuk materi yang menarik bagi siswa kelas 7 karena materi ini termasuk materi yang baru bagi para siswa, namun materi ini akan langsung menjadi materi yang membosankan manakala materi ini disajikan dengan cara biasa (ceramah, catat, latihan, salin), apalagi kalau siswa tidak dilibatkan secara aktif , materi ini akan menjadi materi yang tidak menarik dan sukar untuk dipahami dan diikuti. Berangkat dari hal itu maka harus dicari cara agar ketertarikan para siswa atas materi pokok aksara Sunda tetap ada dan bertambah maka digunakanlah media pembelajaran m-learning. Media pembelajaran m-learning dimaksud pada pembahasan ini adalah penggunaan telepon genggam (HP) sebagai media untuk mencari materi Aksara Sunda. Ketika media ini dipakai, siswa terlihat lebih antusias dibanding dengan tidak menggunakan media telepon genggam (HP), dan kami sebagai gurunya juga bahagia melihat siswa yang aktif berperan dalam proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran ini siswa diajak untuk lebih percaya diri pada kemampuan yang dimilikinya dan para siswa juga belajar untuk bisa mengambil keputusan sendiri, bagi kami hal ini jelas membahagiakan. Berikut di bawah ini langkah-langkah pembelajaran materi pokok Aksara Sunda yang menggunakan media pembelajaran m-learning di kelas 7. 1.Siswa dikelompokan berpasangan, pengelompokanya berdasarkan pada ada tidaknya telepon genggam (HP) yang dibawa siswa, jadi siswa yang tidak membawa telepon genggam dikelompokan dengan siswa yang membawa telepon genggam (HP), HPnya ini harus ada koneksi internetnya. 2.Setelah siswa berpasangan, kemudian siswa membuka HP nya untuk browsing materi aksara Sunda. Materi yang di browsing ditentukan oleh guru, hal ini dilakukan untuk penyeragaman informasi materi dan target materi yang ingin dicapai. Materi yang dicari adalah Aksara Ngalagena, Aksara Swara (Vokal), Rarangkén (tanda baca), dan angka. 3.Sebelum siswa menuliskan hasil browsingnya ke dalam buku, siswa diberi penjelasan tentang tatacara penulisan Aksara Sunda agar hasilnya rapih, baru kemudian masing –masing siswa menuliskannya ke dalam buku. 4.Guru mengecek hasil browsing siswa dan mengecek hasil salinannya ke dalam buku. 5.Setelah selesai pengecekan, siswa diajak untuk merangkai aksara Sunda menjadi rangkaian kata dan rangkaian kalimat. 6.Cara mengajarkan siswa merangkai kata dengan cara siswa dituntun untuk menuliskan kata itu melalui perhurup, dengan diawali guru menulis satu hurup dalam tulisan latin, siswa mencari hurup latin itu dalam aksara sunda, ini dilakukan oleh siswa sendiri tanpa kerja sama dengan temannya, proses ini menuntut siswa untuk menemukan sendiri hurup-hurup itu dari catatan yang tadi dibuatnya, dan terlihat menarik dan lebih menantang bagi siswa, semangat siswa terlihat ketika proses ini berlangsung, apa lagi manakala jawaban nya benar. Guru memvariasikan kata-kata yang ditulis, soal-soal latihan diberikan dalam jumlah terukur sesuai kondisi, dan hasil siswa langsung diperikas dengan dibahas di kelas. 7.Sebagian siswa diminta ke depan untuk mencoba menulis Aksara Sunda hal ini dilakukan untuk memenuhi rasa penasaran atas kemampuan mereka. 8.Siswa diberi latihan kembali untuk mengingat materi aksara Sunda. 9.Pembelajaran ditutup dengan pembahasan latihan. Manfaat M-Learning bagi pembelajaran Bahasa Sunda Dengan memperhatikan tahapan pembelajaran di atas, telepon genggam (HP) sebagai media m-learning dimanfaatkan untuk mencari materi Bahasa Sunda. Proses siswa mendapatkan materi aksara Sunda dengan mencari sendiri melalui HP sebagai media m-learning yang kemudian disalin siswa ke dalam bukunya masing-masing, proses ini memberi pengaruh yang berbeda dan memberi pengalaman belajar yang menarik minat siswa dibandingkan jika dengan siswa mendapatkan materi dengan cara diberi oleh guru ditulis di depan papan tulis.